
Liputan6.com, Jakarta – Menjelang peringatan Hari Ibu Nasional, sebuah rukun tetangga di kawasan padat penduduk Jakarta Timur mendadak menjadi sorotan publik. RT 08 RW 04 Malaka Jaya, Duren Sawit, dikenal viral hingga mancanegara berkat inovasi pengelolaan lingkungan berbasis warga yang lahir dari lorong-lorong sempit permukiman.
Hari ini, kawasan tersebut menerima kunjungan strategis dari Mustakim Wahyudi, General Manager Household Consumer Business Region Jakarta & Banten Telkomsel. Kunjungan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap gerakan warga yang dinilai berhasil membuktikan bahwa perubahan lingkungan tidak harus menunggu proyek besar atau kebijakan dari atas.
“Inovasi lingkungan tidak selalu lahir dari ruang-ruang elite. Dari gang kecil pun bisa lahir solusi besar, kalau warganya mau bergerak,” ujar Mustakim Wahyudi saat berdialog dengan warga.
Menurutnya, keberanian warga RT 08 untuk langsung bertindak menjadi kunci utama keberhasilan gerakan ini.
“Yang terpenting adalah berbuat dulu. Kalau ada kendala, kita perbaiki bersama. Kalau menunggu sempurna, kapan kita bisa punya? RT 08 ini keren karena berani bertindak dan mampu menjadikan CSR benar-benar berdaya guna, menjadi empowerment people,” katanya.
Aktif Kembangkan Inovasi Lingkungan
RT 08 RW 04 Malaka Jaya selama ini dikenal aktif mengembangkan berbagai inovasi lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah berbasis warga, urban farming, kolam budidaya terintegrasi, hingga edukasi lingkungan yang melibatkan lintas generasi. Inisiatif-inisiatif tersebut menjadikan RT 08 bukan sekadar wilayah administrasi, tetapi ruang belajar bersama bagi warga dan komunitas lain.
Pada pagi hari yang sama, sekitar 60 anggota Rumah Tahfidz Muslimah (RTM) Cimanggis, Depok, turut berkunjung ke lokasi. Kehadiran para penghafal Al-Qur’an ini memberi warna tersendiri dalam momentum Hari Ibu Nasional, dengan menegaskan peran perempuan dan ibu dalam menjaga nilai kehidupan dan kelestarian lingkungan.
Sulistyowati, perwakilan RTM, mengatakan kunjungan ini bertujuan melihat langsung praktik nyata kepedulian lingkungan di tingkat warga.
“Kami ingin mengamalkan nilai yang kami pelajari. Menjaga bumi adalah bagian dari nilai itu. Selama ini kami mengenal RT 08 dari berbagai pemberitaan nasional dan internasional, dan hari ini kami melihat sendiri praktik baik tersebut,” ujarnya.
Turut hadir pula Yayasan Amanah Baitul Ilmi dari Tangerang Selatan. Salah satu pengurusnya, Syarief, menyebut apa yang dilakukan RT 08 bukanlah proyek sesaat.
“Ini gerakan sosial yang hidup. Warga saling berkolaborasi dan memberdayakan potensi yang sudah ada. Kami tertarik untuk kembali dan belajar lebih dalam,” katanya.
Ketua RT 08 RW 04 Malaka Jaya, Taufiq Supriadi, menegaskan bahwa gerakan ini adalah bukti bahwa program CSR dan ESG dapat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Kami ingin membuktikan bahwa CSR dan ESG bukan sekadar laporan, tetapi bisa menghadirkan empowerment people. Di RT 08 ini, setidaknya lima dari delapan Asta Cita Pemerintah sudah berjalan nyata di tingkat warga, termasuk penciptaan lapangan kerja,” ujarnya.
RT Subjek Pembangunan
Selain pengelolaan sampah, RT 08 juga mengembangkan kolam budidaya terintegrasi yang kini mulai direplikasi ke RT lain. Menurut Taufiq, langkah ini menunjukkan bahwa RT dapat menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar penerima kebijakan.
“Kalau satu RT bisa berdaya, RT lain bisa belajar. Asta Cita harus dimulai dari lingkungan terkecil,” katanya.
Upaya RT 08 juga mendapat dukungan dari Lurah Malaka Jaya, Eko Purnomo, yang menyebut kegiatan warga ini sejalan dengan konsep MAJAPAHIT (Malaka Jaya Peduli, Aman, Harmonis, Indah, dan Toleran) serta program Jaga Jakarta. Bahkan, inovasi digital RT Online yang dikembangkan RT 08 akan diikutsertakan dalam lomba pertanggungjawaban keuangan desa.
Menutup rangkaian kegiatan, Taufiq Supriadi menekankan bahwa Hari Ibu Nasional menjadi momentum refleksi bersama.
“Seperti ibu yang merawat kehidupan tanpa pamrih, lingkungan pun harus kita jaga dengan penuh tanggung jawab. Pembangunan sejati dimulai dari rumah, dari kepedulian, dan dari lingkungan terkecil,” ujarnya.
Dari lorong sempit di Jakarta Timur, warga RT 08 RW 04 Malaka Jaya membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil. Sebuah cerita tentang gotong royong, keberanian bertindak, dan harapan bahwa gerakan lokal mampu memberi inspirasi hingga ke tingkat global.




