Bayangan kita tentang sosok Ketua RT biasanya tidak jauh dari urusan administrasi KTP atau surat pengantar pernikahan. Namun, di Malaka Jaya, Jakarta Timur, seorang Ketua RT bernama Taufiq Supriadi mendobrak stigma tersebut dengan berbagai inovasi lingkungan yang mendunia. Tak tanggung-tanggung, pria bergelar Doktor Akuntansi dan Hukum ini berhasil membawa nama lingkungannya hingga ke kancah internasional.
Memimpin RT 08 RW 04 Malaka Jaya selama dua tahun terakhir, Taufiq Supriadi menerapkan prinsip “Leading by Example”. Ia mengawali perubahan dengan pembuatan blueprint rencana kerja lima tahun layaknya program pemerintah pusat. Fokus utamanya adalah transformasi digital dan keberlanjutan lingkungan.
Salah satu inovasi yang paling mencolok adalah pemanfaatan saluran air atau U-ditch yang disulap menjadi kolam lele double decker. Menggunakan simulasi digital, Taufiq membuktikan bahwa air selokan yang biasanya hanya setinggi 1 cm bisa dimaksimalkan untuk budidaya ikan konsumsi yang bersih dan sehat. Hasilnya luar biasa, sekali panen warga bisa menghasilkan hingga ratusan kilogram lele yang memberikan nilai ekonomi tambahan bagi warga setempat dan UMKM ibu-ibu sekitar.
Tak hanya soal pangan, penanganan sampah di wilayah ini juga sangat terintegrasi. Mulai dari penggunaan lubang resapan biopori untuk mencegah banjir, hingga pengelolaan sampah organik menggunakan maggot dan komposter. Sampah non-organik pun dikelola melalui bank sampah yang mampu memberikan penghasilan hingga jutaan rupiah bagi warga hanya dari memilah sampah.
Berkat konsistensinya, Taufiq telah menerima berbagai penghargaan, mulai dari Rekor MURI, Excellency Award dari Amerika Serikat, hingga undangan dua kali dari Tiongkok untuk memaparkan program “From Waste to Gold”. Ia berharap inovasi ini bisa menjadi laboratorium hidup bagi daerah lain untuk menjaga kelestarian bumi sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
“Bagaimana kita menjaga bumi tempat bendera itu berdiri adalah wujud kepahlawanan masa kini,” ujar sang Ketua RT inspiratif tersebut.




